Design by Theme Junkie | Blogger Template by NewBloggerThemes.com

Mau Nyari Apa?

Cari Disini Ya!

IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan)

Loading...

#blog-pager{font-size:normal}.showpageArea{font-family:verdana,arial,helvetica;color:#000;font-size:11px;margin:10px}.showpageArea a{color:#000;text-shadow:0 1px 2px #fff;font-weight:normal}.showpageNum a{padding:2px 8px;margin:0 4px;text-decoration:none;border-bottom:2px solid #5fb404;border-top:2px solid #5fb404;background:#effbf5}.showpageNum a:hover{border-bottom:2px solid #df01d7;background:#a9f5f2;border-top:2px solid #df01d7}.showpageOf{margin:0 4px 0 0}.showpagePoint{color:#fff;text-shadow:0 1px 2px #333;padding:2px 8px;margin:2px;font-weight:700;border-bottom:2px solid #5e610b;border-top:2px solid #5e610b;background:#5e610b;text-decoration:none}
Diberdayakan oleh Blogger.

Berlangganan

Blogger templates

Blogroll

Belajar Ekonomi; Biaya Peluang atau Opportunity Cost

  Menurut Paul A. Samuelson, Economics is the science of choice . Dalam setiap keputusan yang muncul di depan kita, apakah memutuskan untuk ...

Rabu, 04 Oktober 2023

 

Menurut Paul A. Samuelson, Economics is the science of choice. Dalam setiap keputusan yang muncul di depan kita, apakah memutuskan untuk membeli barang A, barang B atau bahkan barang C kita memerlukan suatu pertimbangan. Jika yang menjadi suatu pertimbangan adalah alasan rasional dan logis, pertimbangannya adalah cost and benefit sebetulnya kita sudah menerapkan ilmu ekonomi dalam hidup kita. Pilihan yang kita lakukan sudah mengikuti kaidah-kaidah ekonomi.

Misal ada seorang murid SMA namanya Rasyid Baswedan memiliki uang saku sebanyak Rp 150.000,- ketika di list kebutuhan dan keinginan murid tersebut bisa banyak sekali, dari satu bahkan sampai 1000. Dari mulai buku, seragam, gadget, kuota dan kebutuhan/keinginan lainnya.

Dikarenakan uang yang dia miliki terbatas, tidak semua kebutuhan/keinginan dia dapat terpenuhi atau terbeli. Dengan demikian Rasyid Baswedan perlu melakukan pilihan. Rasyid Baswedan akan membuat skala prioritas, mengurutkan kebutuhan/keinginan mana yang lebih urgent/penting.

Dari semua list kebutuhan/keinginan Rasyid Baswedan tidak semuanya dapat terpenuhi, dengan demikian muncullah yang namanya biaya peluang/opportunity cost . Biaya peluang secara konsep adalah sesuatu yang kita korbankan karena kita memilih alternatif pilihan yang lain. Tidak semua kebutuhan/keinginan kita akan terpenuhi, karena sumber daya kita terbatas.

Berdasarkan hadis nabi muhammad shalallahu a’laihi wassalam diberitakan bahwa umur umat nabi direntang 60-70 tahun.

“Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah shalallahu a’laihi wassalam bersabda, 'Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.'” (HR At-Tirmidzi).

Kemudian jika kita pahami lagi, “Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47)

Dari dua dalil tadi kita memahami bahwa rentang hidup kita sangat singkat jika dibandingkan waktu di sisi Allah ta’ala. Karena di sisi Allah 1 hari setara dengan 1000 tahun. Jika umur kita maksimal 70 tahun maka umur kita di dunia kurang lebih adalah 100,8 menit. Atau setara 1 jam 40 menitan.

Jika kita memahami konsep biaya peluang, sebagai muslim jangan sampai kita mengorbankan hal yang kekal tadi di akhirat demi umur 70 tahun atau setara 1 jam 40 menitan di sisi Allah ta’ala. Jangan sampai kita korbankan hidup kekal kita di akhirat karena kita totalitas menikmati umur 70 tahun didunia dengan foya-foya. Jadikan dunia sebagai ladang untuk menjadi bekal di akhirat. Sehingga di kehidupan yang kekal nanti kita akan memperoleh ganjaran yang terbaik (surga).

Setelah kita memahami perspektif ini maka sebagai muslim kita perlu taat terhadap syariat. Anggap saja syariat adalah batasan untuk kita yang kita tidak boleh melewati batasan tersebut. Misal dalam hal makanan, secara syariat daging babi itu haram, maka taat saja tidak memakan babi itu selama 70 tahun (bisa kurang bisa lebih). Setelah itu terlewati, insyaAllah kita akan diganjar dengan ganjaran terbaik (surga). Begitu juga aturan-aturan syariat yang lain. Misal perihal perintah, jika ada perintah sholat, bersedekah atau perintah lainnya maka cukup taat dan laksanakan. Bersabar dan tawakal dalam menjalani perintah dan menjauhi larangan syariat semoga akan menghantarkan kita ke surga. Tentu saja masuk nya orang tersebut ke surga atas izin Allah ta’ala.

Walallahu a’lam bi showab


 

Pernahkah saudara melihat sebuah keteraturan di masyarakat? Polisi, guru, jaksa, hakim dan semua profesi lainnya bekerja sesuai tupoksi dan tanggung jawabnya masing-masing. Pertanyaannya? Apakah yang melatarbelakangi keteraturan ini? Hal ini lah yang akan kita bahas di artikel ini. Mari kita simak bersama-sama.

Sebelum Adam Smith dinobatkan sebagai bapak ekonomi modern, beliau awal mulanya adalah seorang profesor moral. Ada satu teori moral dari beliau yang saya bilang terobosan pada zamannya. Begini penjelasannya, menurutmu? Apakah alasan dari petani bangun pagi-pagi untuk mengolah tanah, menanam dan bekerja keras di sektor pertanian? Apakah agar seluruh masyarakat dapat memperoleh makanan? Apakah agar seluruh masyarakat tidak kelaparan? Bukan itu alasan yang sebenarnya, menurut Adam Smith jika seseorang bersikap individualis maka akan terjadi keteraturan, petani tadi sebetulnya bersikap individualis, dia butuh uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, makanya dia bekerja keras mengolah tanah dari awal sampai panen, setelah panen dia menjualnya ke pasar dan memperoleh uang dari hal tersebut.

Begitu juga yang terjadi pada guru, apakah seorang guru yang bangun pagi-pagi kemudian bersiap untuk mengajar dan pergi ke sekolah kemudian sorenya pulang lagi alasannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Alasannya agar tidak ada lagi orang bodoh di dunia ini? Bukan itu alasannya, jika kita menggunakan teori moral individualis tadi, alasannya adalah orang yang berprofesi sebagai guru tersebut membutuhkan uang untuk menjalani hidup. Karena dia butuh, maka dia akan bekerja sebaik mungkin agar kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi, guru tadi sebetulnya sudah bersikap individualis.

Begitu juga ketika kita melihat suatu fakta bahwa kasus korupsi di negara maju sedikit jumlahnya, yakinilah itu bukan karena mereka taat hukum. Sedikitnya kasus korupsi di negara maju karena pejabatnya bersikap individualis, mereka tidak mau merugikan diri mereka sendiri. Sistem keuangan di negara maju sudah canggih dengan singgel identitynya, sangat mudah mendeteksi rasywah, suap dan bentuk gratifikasi lainnya apalagi jika ada penambahan harta yang luar biasa di rekeningya, atau rekening salah satu keluarganya meningkat drastis, ini bisa menjadi temuan dan tentu saja sangat mudah mendeteksinya. Jika ketahuan korupsi, kerugian yang akan mereka dapatkan cukup banyak, dihukum penjara, disita hartanya, keluarganya berantakan, anaknya menanggung malu dan hukuman sosial lainnya.

Dari teori ini dipahami bahwa, ketika masing-masing individu dari masyarakat bersikap individualis justru akan terjadi yang namanya keteraturan di masyarakat. Hakim yang individualis akan bersikap jujur, jaksa akan jujur, polisi akan jujur dan semua profesi lainnya akan menjalankan peran dan tugas mereka masing-masing dengan baik jika mereka bersikap individualis. Dengan demikian, ketika masing-masing profesi menjalankan perannya dengan baik, maka akan tercapai keteraturan di masyarakat bahkan sampai level negara.

Jika kamu memiliki status sebagai murid, dan kamu bersikap individualis. Misal, ingin masuk jurusan Hukum di Universitas Indonesia. Karena tujuan ini, kamu akan belajar dengan tekun, menghindari segala macam kecurangan yang akan merugikan dirimu sendiri. Bayangkan saja jika satu kelas tadi semua muridnya bersikap individualis, maka justru akan terjadi keteraturan di kelas tersebut.

jika kamu seorang muslim, kita harus memahami bahwa seluruh ibadah kita, sholat kita, sedekah kita dan ibadah yang lain sejatinya untuk diri kita sendiri. Allah ta’ala tidak membutuhkan ibadah kita sama sekali. Kita sebagai muslim bersikap individualis, ingin surga dan takut memasuki neraka. Ketika setiap muslim bersikap individualis, mementingkan dirinya sendiri. Maka muslim tersebut akan menjalankan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan Allah ta’ala yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dengan demikian, akan terjadilah suatu keteraturan di masyarakat muslim, karena masing-masing dari mereka takut diancam dengan neraka dan ingin memperoleh surga. Muslim tersebut akan menjadi pribadi yang jujur, tidak korupsi, bersikap baik dan akhlak terpuji lainnya.

Jika kita membaca qur’an surat Al-Baqarah ayat 21:

wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.

Disini kita memang melihat adanya perintah untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Namun ini bukan berarti Allah ta’ala butuh akan ibadah kita. Melainkan, kitalah manusia yang butuh terhadap ibadah yang Allah ta’ala perintahkan.

Hal ini diperkuat dengan hadis qudsi;

Wahai hamba-Ku, seandainya seluruh manusia dan jin dari awal penciptaan sampai akhir penciptaan. Seluruhnya menjadi orang yang paling bertakwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari awal penciptaan sampai akhir penciptaan. Seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku (HR. Muslim, No. 2577)

Dari hadis qudsi ini kita memahami bahwa walaupun seluruh manusia dan jin memiliki akhlak yang baik, ibadahnya mantap djiwa, atau mereka luar biasa bertakwa. Semua hal tadi, tidak menguntungkan Allah ta’ala sedikitpun.

Begitu juga sebaliknya, walaupun seluruh manusia dan jin di muka bumi tidak pernah beribadah kepada Allah, hanya membuat kerusakan saja, peperangan, kebencian, permusuhan, maksiat, atau kejahatan paling keji sekalipun, itu tidak akan merugikan Allah ta’ala sama sekali.

Lantas untuk siapakah ibadah kita itu? sebenarnya siapakah yang mendapat manfaat dari ibadah yang kita lakukan?

Mohammad Arkoun dalam bukunya Nalar Islami Nalar Modern (1994) menjelaskan bahwa ibadah yang Allah perintahkan tidak ditujukan untuk menciptakan Muslim yang saleh secara ritual dan saleh terhadap Allah ta’ala semata. Bagi Arkoun, peribadatan seharusnya dilakukan seorang untuk menghasilkan kesalihan privat dan sosial, karena demikianlah substansi peribadatan yang dimaksudkan dan diperintahkan oleh Allah ta’ala. Disini artinya adalah ibadah kita sebenarnya untuk kebutuhan diri kita sendiri, bukan untuk Allah.

Setelah penjelasan panjang lebar ini, jika kamu seorang guru, masihkah kamu berkata, saya ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, saya tidak ingin ada kebodohan di dunia ini? jujurlah dengan diri sendiri, jangan dusta. Begitu juga profesi-profesi lainnya, apakah alasan yang menggerakkanmu bangun pagi untuk giat bekerja, pasti karena niat personal yang ada pada dirimu bukan. Perlu dicatat juga, tidak berdosa bagi seorang muslim bekerja mencari maisyah. Bahkan wajib hukumnya bagi laki-laki muslim mencari penghidupan yang halal. Mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupannya sendiri itulah individualis.

Jika setiap orang bersikap individualis, maka orang tersebut akan bekerja dengan sebaik mungkin sesuai profesinya. Dia akan profesional, dia akan bertanggung jawab. Dan luar biasanya, justru karena sikap individualis dari masing-masing individu tadi,  akan menciptakan yang namanya keteraturan di masyarakat. Masyarakat akan damai, lingkungan nyaman ditinggali, tidak ada permusuhan, pertengkaran, perpecahan dan masalah lainnya karena masing-masing sudah sadar akan tugas, tanggung jawab dan tujuan hidupnya.

Namun yang perlu diingat adalah setiap perbuatan kita sebagai muslim, apapun itu dapat bernilai sebagai ibadah. Sama-sama petani, sama-sama mengolah tanah, tapi jika diniatkan untuk ibadah maka dua hal yang akan dia dapatkan, dunia dan akhirat. Dalam perspektif ilmu kapitalis, sejatinya keuntungan yang didapat hanya dunia saja. Muslim justru sudah jauh didepan, dunia dan akhirat (falah). Wallahu a’alam bi showab.


Kamis, 10 Agustus 2023

Bab Ketenagakerjaan menjadi bab pertama yang kami ajarkan di kelas XI IPS semester ini. Di bab ini memuat banyak teori penting dan tentunya relevan dengan kehidupan kita. Pada dasarnya setiap dari kita membutuhkan makanan, minuman dan kebutuhan lainnya untuk terpenuhi. Agar kebutuhan kita tersebut dapat dipenuhi, tentu saja kita butunh uang dan harus bekerja untuk memperolehnya. Bekerja disini bisa mengabdi di suatu perusahaan atau mendirikan usaha sendiri. Yang akan kita bahas di bab ini tentu saja bekerja yang mengabdi di suatu perusahaan. Sedangkan pembahasan Kewirausahaan tentu saja di bab lainnya.

Bagi masyarkat yang memilih untuk mencari pekerjaan, maka perlu membuat CV (Curiculum Vitae) mengenai dirinya sendiri sehingga HRD (Human Resort and Development) dapat tertarik dengan profil kita. Tentu saja peluang untuk bergabung dengan suatu perusahaan akan meningkat jika kita membuat CV versi terbaik dari diri kita. Pada kesempatan kali ini, murid juga melakukan simulasi membuat CV sesuai dengan apa yang mereka impikan atau cita-citakan kelak di masa depan. Contoh CV yang menjadi patokan adalah seperti ini. Kami printkan template kertas CV nya sehingga murid mudah membuat CV yang mereka inginkan. Kami mohon maaf tidak menampilkan CV yang telah dibuat oleh murid di artikel ini karena memuat informasi-informasi pribadi dari para murid.

Hal bagusnya adalah, banyak murid yang memutuskan untuk lanjut kuliah bahkan ada yang menuliskan di CV nya lulus S1 dan S2 dari universitas-universitas terbaik di negeri ini maupun luar negeri. Ada yang menulis lulusan Hukum, desain grafis, akuntansi dan jurusan-jurusan lainnya. Paling tidak kami mengetahui bahwa murid-murid kami memiliki impian-impian yang tinggi dan mereka semangat untuk mencapainya.

Setelah CV dibuat oleh para murid sesuai dengan apa yang mereka impikan kelak di masa depan. Langkah berikutnya kami memilih 8 orang murid yang bersedia berperan sebagai HRD. Ada 8 perusahaan dalam simulasi kali ini. Daftarnya perusahaan dan list gajinya sebagai berikut:

Kami berikan pemahaman kepada para murid yang berperan sebagai HRD bahwa mereka memiliki hak penuh untuk menerima atau menolak pelamar kerja yang mendaftar. Mereka juga berhak untuk memecat atau menegur karyawannya yang memiliki kinerja buruk. Murid yang berperan sebagai HRD memiliki otoritas penuh melakukan semua hal tersebut.

Langkah berikutnya kami instruksikan kepada murid untuk melakukan perekapan setiap penerimaan dan pengeluaran yang didapat oleh setiap murid setiap bulannya. Form yang dibuat oleh murid sebagai berikut:


Setiap murid wajib melakukan pencatatan sesuai dengan instruksi yang ada, misal pengeluaran di bulan ini Rp 3000.000,00 dan murid tersebut bekerja di perusahaan samsung dengan gaji Rp 10.000.000,00 tertulis lah saldo yang dimiliki murid tersebut Rp7.000.000,00. Begitu juga untuk murid yang menganggur, pemasukan Rp0 dan Pengeluaran Rp3.000.000,00 maka saldo minus Rp3.000.000,00

Setelah semua lengkap, HRD juga sudah memposisikan dirinya masing-masing. Kami bukakan skenario yang ada, berikut skenarionya!




Bulan seterusnya dikembalikan lagi kepada HRD masing-masing, HRD memiliki hak untuk menerima, menolak pelamar, memberikan bonus dan bahkan memecat karyawan. Jika ada lowongan yang ingin disampaikan, HRD bisa langsung umumkan secara lisan atau tulis di papan tulis atau media lainnya yang relevan. ada murid yang secara kualifikasi cocok, namun karena informasi tentang lowongan tersebut tidak sampai kepada dirinya, masih menganggurlah murid tersebut. Fenomena lainnya yang muncul adalah beberapa murid ada yang nekat mendaftar walaupun kualifikasinya tidak cocok. Demikian juga yang terjadi di dunia nyata. Kenekatan mendaftar lowongan pekerjaan yang marak terjadi walaupun kualifikasi diri dan lowongan yang ada tidak sesuai.






Dari simulasi ini murid memahami bahwa, mereka yang sudah berpendidikan bahkan ada yang menuliskan sampe gelar magister tetap menganggur. Hal ini terjadi karena kualifikasi murid tersebut dengan lowongan yang tersedia tidak cocok. Berikutnya juga terlihat ada murid yang sudah diterima di sebuah perusahaan (Perusahaan Chicken Farm) dengan gaji Rp3.000.000,00 masih tetap mencoba melamar di perusahaan Samsung dengan gaji Rp10.000.000,00. Hal ini juga terjadi di dunia nyata, dimana para pelamar atau pekerja generasi milenial tetap mencari perusahaan terbaik dan menjadikan perusahaan sebelumnya sebagai batu loncatan.

Hal terbaik yang terlihat adalah ketika pengumuman diterima atau tidaknya murid di suatu perusahaan. ada yang  teriak hore dan melakukan selebrasi. Hal ini juga fenomena yang terjadi di masyarakat. Sudah sewajarnya merasa gembira atas pencapaian yang diterimanya. Begitu juga ketika diumumkan tidak diterima, beberapa murid berteriak menunjukan kekecewaan dan kesedihannya.

Tujuan Pembelajaran dengan permainan ini, harapannya siswa dapat memahami:

1.       1. Proses rekrutmen dan wawancara kerja.

2.       2. Kriteria seleksi yang digunakan oleh perekrut dalam memilih calon karyawan.

3.       3. Keterampilan dan persiapan yang dibutuhkan sebagai pencari kerja untuk sukses dalam wawancara.

4.       4. Pentingnya persiapan dan latihan sebelum menghadapi wawancara kerja.

Simulasi Wawancara Kerja akan membantu siswa untuk lebih memahami dan mengalami secara langsung bagaimana proses seleksi calon karyawan dilakukan. Mereka juga dapat mengidentifikasi keterampilan apa yang perlu ditingkatkan dan dipersiapkan untuk menjadi calon yang lebih kompetitif dalam wawancara kerja.

Demikian, jam belajar selesai pun berbunyi. Pelajaran berkahir.

Selasa, 13 Juni 2023


Itsar adalah konsep yang penting dalam Islam yang mencerminkan sikap suka memberi, berbagi, dan mengorbankan diri demi kepentingan orang lain. Konsep ini berkaitan erat dengan nilai-nilai sosial dan etika Islam, termasuk dalam konteks ekonomi. Di sisi lain, Pareto efisiensi adalah konsep dalam ekonomi yang menggambarkan kondisi di mana tidak mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan satu individu atau kelompok tanpa mengurangi kesejahteraan individu atau kelompok lainnya. Meskipun pada pandangan awal mungkin terlihat bahwa keduanya memiliki hubungan yang tidak langsung, namun mereka memiliki keterkaitan yang signifikan dalam konteks ekonomi Islam.

Dalam Islam, Itsar memiliki banyak implikasi dalam hal distribusi sumber daya dan kekayaan. Prinsip itsar mendorong umat Muslim untuk menghindari sikap keserakahan dan egoisme yang berlebihan. Sebaliknya, mereka didorong untuk melihat kebutuhan orang lain, terutama mereka yang kurang mampu, dan berusaha untuk berbagi dengan mereka. Konsep ini mencerminkan keprihatinan Islam terhadap ketimpangan sosial dan kemiskinan, dan dorongan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan berkeadilan.

Pareto efisiensi, di sisi lain, mengacu pada situasi di mana tidak ada perubahan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan satu individu tanpa mengurangi kesejahteraan individu lain. Dalam konteks ekonomi konvensional, Pareto efisiensi seringkali dikaitkan dengan alokasi sumber daya yang optimal dan penggunaan efisien dari sumber daya yang tersedia.

Namun, dalam konteks ekonomi Islam, terdapat perbedaan dalam pendekatan terhadap konsep efisiensi. Islam menekankan pentingnya keadilan sosial dan distribusi yang adil, bukan hanya efisiensi semata. Dalam Islam, prinsip itsar muncul sebagai kontraposisi terhadap ketidakadilan sosial yang mungkin timbul akibat dari penerapan prinsip Pareto efisiensi secara murni.

Dalam kerangka ekonomi Islam, efisiensi ekonomi tidak dapat diukur semata-mata berdasarkan Pareto efisiensi, tetapi juga melalui konsep keadilan sosial dan redistribusi kekayaan yang adil. Prinsip itsar mendorong individu dan masyarakat untuk berbagi kekayaan dan sumber daya mereka dengan cara yang seimbang, sehingga menciptakan kesetaraan sosial dan meminimalkan kesenjangan sosial yang tidak adil.

Dalam praktiknya, hal ini dapat tercermin dalam berbagai mekanisme ekonomi seperti zakat, infak, sedekah, dan program-program pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi kesenjangan sosial dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Pendekatan ini menciptakan harmoni antara efisiensi ekonomi dan keadilan sosial, dengan prinsinsip itsar yang mengimbangi kepentingan individu dan kelompok dalam masyarakat.

Dalam konteks ekonomi, hubungan antara konsep itsar dalam Islam dan Pareto efisiensi dapat dilihat sebagai upaya untuk menggabungkan efisiensi dan keadilan sosial. Islam mendorong umatnya untuk mencapai efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan alokasi yang optimal, namun tidak dengan mengesampingkan prinsip keadilan sosial.

Misalnya, dalam sistem ekonomi Islam, zakat adalah salah satu mekanisme yang diatur untuk menerapkan prinsip itsar dan mencapai keadilan sosial. Zakat adalah kewajiban bagi umat Muslim yang mampu untuk memberikan sebagian dari kekayaan mereka kepada orang-orang yang membutuhkan. Melalui zakat, sumber daya dan kekayaan yang terkumpul dari individu atau kelompok yang lebih mampu didistribusikan kepada mereka yang kurang beruntung. Dalam hal ini, konsep itsar dan prinsip Pareto efisiensi dapat saling berkolaborasi.

Pareto efisiensi dapat diterapkan dalam konteks distribusi zakat dengan memastikan bahwa alokasi sumber daya dilakukan secara efisien sehingga manfaatnya dapat diperluas bagi penerima zakat. Namun, pendekatan ini juga memperhatikan keadilan sosial dengan memastikan bahwa mereka yang benar-benar membutuhkan mendapatkan dukungan yang tepat.

Selain itu, konsep itsar juga berperan dalam mendorong sikap saling tolong menolong dalam komunitas Muslim dan membangun solidaritas sosial. Prinsip ini dapat mendorong kolaborasi ekonomi antara individu dan kelompok dalam masyarakat Islam untuk mencapai kesejahteraan bersama. Dalam konteks ini, upaya kolaboratif yang diinspirasi oleh itsar dapat memperkuat efisiensi ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya yang optimal dan pengembangan potensi ekonomi yang lebih luas.

Dalam kesimpulannya, konsep itsar dalam Islam dan Pareto efisiensi dalam ekonomi dapat memiliki hubungan yang saling melengkapi dalam konteks ekonomi Islam. Itsar mendorong keadilan sosial dan kepedulian terhadap orang lain, sementara Pareto efisiensi mengedepankan penggunaan sumber daya yang optimal. Dalam praktiknya, konsep itsar dapat diimplementasikan melalui mekanisme redistribusi kekayaan dan upaya kolaboratif dalam masyarakat Muslim, sehingga menghasilkan efisiensi ekonomi yang seimbang dengan keadilan sosial. Wallahu a'lam bish-shawabi. 

Jumat, 09 Juni 2023

 


Akad dalam pemahaman Ekonomi Islam memiliki posisi yang penting, dengan akad ini membedakan apakah transaksi atau kegiatan tersebut berlandaskan Islam atau justru berlandaskan ide-ide kapitalis?

Mari kita belajar sedikit tentang Akad. Berikut adalah beberapa alasan mengapa akad menjadi penting dalam konteks ekonomi Islam:

1.   Keadilan dan Kepastian Hukum: Akad dalam ekonomi Islam membantu menciptakan keadilan dan memastikan kesetaraan dalam transaksi ekonomi.

Melalui akad, hak dan kewajiban semua pihak yang terlibat dalam transaksi ditetapkan dengan jelas, sehingga menghindari penyalahgunaan atau penipuan yang dapat terjadi dalam sistem ekonomi konvensional.

Lantas bagaimana jika ada orang atau lembaga yang mengaku islam atau berdiri di atas agama Islam membuat akad yang batil, didalamnya hanya memuat kewajiban, tanpa ada bahasan tentang hak yang diterima oleh si penerima kewajiban? Apakah kita harus taat terhadap akad tersebut? Mungkinkah keadilan dan kepastian hukum akan terwujud jika akad yang dibuat isinya hanya condong kepada satu pihak?

 

2.       Pengaturan dan Perlindungan: Akad dalam ekonomi Islam juga berfungsi sebagai alat pengaturan dan perlindungan bagi para pihak yang terlibat dalam transaksi. Ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat dalam akad dapat melindungi hak-hak konsumen, mengatur tanggung jawab, serta meminimalisir risiko dan ketidakpastian yang dapat muncul dalam transaksi ekonomi.

Jika akad tersebut berisi hanya pengekangan, ancaman dan tidak ada unsur memujudkan perlindungan, maka akad yang termuat batil.

 

3.       Transparansi dan Tanggung Jawab: Dalam ekonomi Islam, akad mendorong transparansi dan tanggung jawab dalam setiap transaksi. Akad harus mencakup semua informasi yang relevan mengenai barang, jasa, harga, dan syarat-syarat yang disepakati. Ini membantu menciptakan lingkungan bisnis yang jujur dan menjaga integritas dalam hubungan ekonomi.

 

4.       Menjamin Etika Bisnis: Akad dalam ekonomi Islam juga mendorong praktik bisnis yang etis dan menjaga kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Islam. Dalam transaksi ekonomi Islam, pihak-pihak yang terlibat diharapkan untuk menjalankan akad dengan mempertimbangkan nilai-nilai moral dan etika Islam, termasuk larangan terhadap riba, perjudian, dan praktik-praktik yang merugikan.

 

5.       Kehidupan Sosial dan Keberlanjutan Ekonomi: Akad dalam ekonomi Islam juga memiliki dampak sosial dan membantu mewujudkan tujuan keberlanjutan ekonomi. Melalui akad, prinsip-prinsip keadilan dan pembagian risiko dapat diterapkan secara adil, yang berkontribusi pada pemerataan kekayaan dan pembangunan sosial dalam masyarakat.

Dalam konteks ekonomi Islam, terdapat prinsip bahwa sebuah akad (kontrak) harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar dianggap sah dan mengikat. Namun, terdapat pengecualian ketika sebuah akad dianggap batil atau tidak sah.

Dalam hal ini, terdapat beberapa dalil yang mengindikasikan bahwa akad tidak perlu dipenuhi jika dianggap batil. Berikut adalah beberapa dalil yang relevan:

1. Dalil Mengenai Keabsahan Akad: Dalam Islam, sebuah akad harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar dianggap sah. Jika akad tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, maka akad tersebut dianggap batil. Contohnya, jika akad melibatkan unsur riba (bunga), maysir (perjudian), gharar (ketidakpastian yang berlebihan), atau melanggar prinsip-prinsip keadilan, maka akad tersebut dianggap batil.

2. Dalil Tentang Pembatalan Akad Batil: Ada dalil yang menyatakan bahwa akad yang dianggap batil dapat dibatalkan. Misalnya, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang membuat akad yang mengandung riba, maka akad tersebut dibatalkan."

3. Dalil tentang Keharaman Melanggar Akad Batil: Terdapat juga dalil yang mengharamkan melanggar akad yang dianggap batil. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda, "Seorang Muslim harus tetap berpegang teguh pada perkataannya selama tidak mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram."

Dalam prinsip ekonomi Islam, penting untuk menjalankan akad yang sah dan memenuhi syarat-syarat syariah. Namun, jika ada akad yang dianggap batil, maka tidak diperlukan pemenuhan akad tersebut karena telah dianggap tidak sah berdasarkan dalil-dalil yang ada.

Dengan demikian, akad dalam ekonomi Islam bukan hanya menjadi instrumen legal formal dalam transaksi ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan bisnis yang adil, etis, transparan, dan berkelanjutan.

Silahkan dicek, apakah lembaga tempat mu bekerja sudah adil ketika membuat akad? Wallahu a'lam bish-shawabi.

Rabu, 07 Juni 2023

 


Dalam dunia ekonomi, terdapat berbagai teori dan konsep yang membahas tentang bagaimana masyarakat mengelola kekayaan dan mengatur kegiatan ekonomi. Salah satu teori yang menarik perhatian adalah "Paradox of Thrift" atau paradoks kekayaan yang dikemukakan oleh ekonom terkenal, John Maynard Keynes. Konsep ini menyoroti dampak paradoksal dari menabung secara berlebihan oleh individu atau masyarakat secara keseluruhan. Namun, dalam konteks keuangan Islam, terdapat aturan yang mengarah pada pemerataan kekayaan dan pengelolaan yang adil, salah satunya melalui konsep wakaf. Artikel ini akan menjelaskan hubungan antara paradoks kekayaan, teori Keynes, dan konsep wakaf dalam perspektif ekonomi Islam.

Paradoks Kekayaan dan Teori Keynes:

Dalam teori paradoks kekayaan, Keynes menjelaskan bahwa menabung secara berlebihan oleh individu atau masyarakat dapat memiliki dampak negatif pada perekonomian secara keseluruhan. Ketika orang-orang menabung lebih banyak, pengeluaran konsumsi menurun, yang pada gilirannya menyebabkan penurunan permintaan agregat. Dampaknya adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan produksi, dan bahkan risiko resesi. Teori ini menyoroti pentingnya konsumsi yang cukup untuk menjaga kelancaran ekonomi.

Konsep Wakaf dalam Islam:

Dalam konteks keuangan Islam, terdapat prinsip-prinsip yang mengatur bagaimana kekayaan harus dikelola agar adil dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat. Salah satu konsep yang relevan adalah wakaf. Wakaf adalah bentuk investasi sosial yang melibatkan pengalihan kekayaan dan aset kepada umum atau amal yang bermanfaat. Prinsip wakaf melarang akumulasi kekayaan yang tidak adil pada segelintir individu, dan sebaliknya, mendorong distribusi kekayaan yang lebih merata. Melalui wakaf, kekayaan dialokasikan untuk tujuan sosial, seperti pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan umum.

Hubungan antara Paradoks Kekayaan dan Konsep Wakaf:

Hubungan antara paradoks kekayaan dan konsep wakaf dapat dipahami sebagai upaya untuk mengatasi masalah akumulasi kekayaan yang tidak seimbang. Paradoks kekayaan mengingatkan kita tentang bahaya menabung berlebihan dan mereduksi konsumsi yang dapat berdampak negatif pada perekonomian. Di sisi lain, konsep wakaf dalam Islam mendorong pengelolaan kekayaan yang adil dan penggunaan yang bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan mengalokasikan sebagian kekayaan untuk wakaf, individu dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam upaya memertahankan keadilan ekonomi dan memperkuat pemerataan kekayaan. Dalam konteks ekonomi Islam, konsep wakaf berfungsi sebagai instrumen untuk memperbaiki paradoks kekayaan yang ditimbulkan oleh tabungan berlebihan.

Melalui wakaf, kekayaan yang diwakafkan tidak hanya disimpan secara pasif, tetapi digunakan untuk membangun dan memelihara fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, masjid, atau pusat pelayanan masyarakat. Dengan demikian, wakaf memungkinkan distribusi kekayaan secara efektif kepada seluruh masyarakat, terutama mereka yang kurang mampu.

Konsep wakaf juga menggalang partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan kekayaan. Individu atau kelompok dapat menyumbangkan sebagian kekayaan mereka sebagai wakaf dan secara bersama-sama berkontribusi untuk membangun dan memelihara aset tersebut. Hal ini menciptakan ikatan sosial yang kuat dan membangun solidaritas dalam masyarakat.

Dengan menghubungkan paradoks kekayaan dengan konsep wakaf, kita dapat melihat bahwa dalam sistem ekonomi yang adil, kekayaan harus dikelola secara bijaksana dan digunakan untuk kepentingan umum. Tabungan yang berlebihan dan akumulasi kekayaan yang tidak adil dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekonomi dan sosial. Melalui wakaf, konsep redistribusi kekayaan, kita dapat mencapai keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Dalam pandangan Islam, kekayaan adalah amanah dari Allah, dan setiap individu bertanggung jawab untuk menggunakan kekayaannya dengan bijak dan memberikan kontribusi bagi kesejahteraan sosial. Melalui pengimplementasian konsep wakaf, kita dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat, serta membangun masyarakat yang adil dan berkelanjutan.

Pertanyaan terakhir, sudah siapkah tabunganmu yang bejibun itu kelak dihisab oleh Allah ta'ala? dari mana dapatnya dan dipergunakan untuk apa tabungan tersebut? Atau justru tidak digunakan untuk apa-apa tabungannya, hanya di akumulasi hingga banyak dan kita masuk kategori orang yang menahan hartanya dan tidak ikut serta memajukan ekonomi umat lewat wakaf? Wallahu a'lam bish-shawabi.

Selasa, 06 Juni 2023

Pernahkah kamu memerankan sebagai CEO (Chief Executive Officer), Presiden Direktur, Direktur, atau Manajer dari sebuah perusahaan? Mampukah kelak jika kamu mendapat amanah tersebut dapat memerankan dengan baik peranmu? Bagaimana jika kamu memiliki personality baik dan ramah namun pekerjaan menuntutmu menjadi Manajer Personalia yang galak dan tegas? Tentu akan terjadi dilema bukan?

Untuk itu, kami mencoba menggunakan metode pembelajaran Role-Playing ketika memasuki bab Manajemen. Bab ini memang penuh dengan teori-teori yang sifatnya deskriptif. Namun tidak menyurutkan kami untuk mencoba menggunakan metode role-playing.

Dalam bab manajemen, metode role-playing dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan pembelajaran yang efektif. Metode ini melibatkan siswa dalam mensimulasikan peran sebagai manajer atau anggota tim dalam situasi-situasi manajemen yang realistis. Dengan berperan sebagai karakter-karakter dalam skenario yang direka, siswa dapat mengembangkan keterampilan manajemen penting, seperti pengambilan keputusan, negosiasi, komunikasi, kepemimpinan, dan kerjasama tim.

Dalam konteks role-playing dalam bab manajemen, siswa dapat diberikan peran sebagai manajer yang harus menghadapi situasi yang beragam, seperti mengelola konflik tim, mengambil keputusan strategis, memecahkan masalah operasional, atau melakukan presentasi kepada pemangku kepentingan. Siswa akan berinteraksi dengan sesama siswa yang memainkan peran anggota tim atau pihak terkait lainnya. Melalui simulasi ini, siswa dapat menerapkan teori dan konsep manajemen yang dipelajari ke dalam konteks praktis, mengasah keterampilan mereka, dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang tantangan dan keputusan yang dihadapi oleh manajer dalam kehidupan nyata.

Metode role-playing dalam bab manajemen memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar dari pengalaman langsung dan melibatkan mereka dalam proses pembelajaran yang aktif. Mereka dapat merasakan tekanan dan tantangan yang mungkin dihadapi oleh manajer sehari-hari, serta mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang implikasi dari keputusan manajerial terhadap organisasi dan individu. Melalui refleksi dan diskusi setelah sesi role-playing, siswa dapat memperoleh wawasan yang lebih kaya dan mendalam tentang prinsip-prinsip manajemen dan bagaimana menerapkannya dalam praktik sehari-hari.

Langkah pertama yang kami lakukan pada pembelajaran kali ini adalah, kami bagi para murid menjadi beberapa kelompok. Kemudian kami lakukan undian untuk memilih tema, peran dan karakter yang akan mainkan oleh murid. Ada murid yang histeris dan panik karena mendapatkan peran direktur dengan karakter konyol. Padahal dalam kehidupan sebenarnya murid tersebut pendiam. Ada pula murid yang senang dengan peran dan karakter yang didapatkan karena sesuai dengan karakter asli mereka dalam real life.







Langkah berikutnya murid menyusun teks skenario yang diperlukan sesuai dengan peran dan karakter yang didapatkannya. Terjadi proses diskusi dan kesepakatan diantara pemain untuk menentukan dialog yang dilakukan dan ending dari cerita yang karang.




Lanjut dipertemuan berikutnya adalah penampilan. Murid-murid sudah membawa property untuk melakukan penampilan. Murid melakukan peran sesuai dengan karakter yang mereka dapatan. Disini kemampuan public speaking murid diuji, mampukah mereka tetap membawakan karakter yang diperankan dengan baik dan benar atau tidak.



Metode role-playing memiliki beberapa manfaat yang signifikan dalam pembelajaran. Pertama, metode ini memungkinkan siswa untuk mengalami pengalaman langsung dalam situasi yang mirip dengan kehidupan nyata. Dengan berperan sebagai karakter-karakter dalam skenario tertentu, siswa dapat menghadapi tantangan dan membuat keputusan yang harus dihadapi oleh para profesional di bidang manajemen. Hal ini membantu siswa mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konteks praktis dari teori dan konsep yang dipelajari dalam bab manajemen. Melalui pengalaman langsung, siswa dapat melihat dampak dari keputusan mereka, memperbaiki keterampilan manajemen, dan merasakan konsekuensi dari pilihan yang mereka buat.

Selain itu, metode role-playing juga meningkatkan keterlibatan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Dalam peran aktif mereka, siswa diharapkan untuk berpikir secara kritis, bekerja sama dalam tim, dan mengasah keterampilan komunikasi. Mereka dapat menghadapi tantangan, berdiskusi, dan berdebat dalam lingkungan yang aman dan terstruktur. Ini membantu siswa mengembangkan kepercayaan diri, keterampilan interpersonal, serta kemampuan untuk memahami dan menghargai sudut pandang orang lain. Metode role-playing juga mempromosikan kolaborasi antara siswa, meningkatkan interaksi sosial, dan membangun keterampilan kerja tim yang penting dalam dunia bisnis dan manajemen. Demikian lah pembelajaran berakhir dan drama pun selesai.